28 yang ke-26

Sampai dengan saat ini, Saya masih di sini saja tidak ke mana-mana. Tidak bisa ke mana-mana, terjebak keadaan yang membuat pikiran Saya tidak bisa berhenti berprasangka tidak baik pada Tuhan. Sebuah pikiran buruk yang terus menerus muncul di pikiran Saya, tidak mau pergi. Mungkin ini salah satu yang membuat Tuhan tidak suka dengan apa-apa yang dipikiran Saya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta‘ala berfirman:

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih).

Maaf kalau ada salah kutipan hadits, mohon dibenarkan jika salah, karena Saya awam dalam agama.

Setiap kali Saya sendirian di kamar ataupun di mana saja, Saya selalu berpikiran negatif dengan apa yang terjadi pada kehidupan Saya. Mungkin ini yang harus Saya perbaiki. Saya harus berbaik sangka pada Tuhan ataupun orang lain atau juga sesuatu yang sudah Saya anggap tidak baik bagi Saya.

“Janganlah salah seorang di antara kamu mati melainkan ia harus berhusnuzon pada Allah.” (Hadits Riwayat Muslim No . 2877)

Sampai dengan usia 26 tahun sekarang, Saya belum bisa apa-apa, belum menghasilkan apa-apa untuk diberikan pada keluarga terlebih untuk orang tua. Bahkan Saya masih harus minta makan pada orang tua. Entah dosa apa saja yang telah Saya perbuat sampai bisa keadaan Saya seperti ini. Saya selalu membandingkan-bandingkan nasib Saya dengan nasib orang lain, dengan nasib teman Saya, nasib sahabat Saya, nasib saudara-saudara Saya, nasib tetangga Saya, mungkin itu salah satu dosa besar yang sering Saya lakukan. Apa mungkin karena keadaan Saya yang seperti sekarang ini? Atau memang setiap orang jika dihadapkan pada keadaan seperti Saya saat ini akan merasa begitu juga?

Saya capek kalau harus membela diri terus. Sementara tidak ada yang bisa membela nasib Saya. Saya tidak mungkin selalu menyalahkan nasib atau bahkan takdir. Kalau Saya terus seperti itu, Saya tidak ada bedanya dengan manusia tercela yang tidak tahu terima kasih.

Setiap kali Saya melamun sendirian di kamar, Saya selalu ingin menangis mewek cengeng seperti perempuan saja. Meratapi kesalahan dan kebodohan Saya atas semua yang terjadi. Saya bingung mesti bagaimana. Orang berkata:

“Jalani saja, toh jika memang kehendak Tuhan kita hanya mesti menjalaninya saja.”

Kalau saja kita hanya mesti menjalani seperti itu, tapi ada masalah lain yang lebih memberatkan pikiran Saya. Orang tua. Ya, kedua orang tua Saya sudah tidak lagi muda. Ibu Saya berumur 59 tahun dan Bapak Saya sudah berumur 58 tahun di tahun 2017 ini. Bulan April tahun depan tanggal 8 dan 16 April berarti Ibu saya sudah berumur 60 tahun dan Bapak Sya berumur 59 tahun. Ibu dan Bapak Saya lahir di bulan yang sama, bulan April. Kakak ke-dua Saya juga lahir pada bulan April. Dan bernama Aprilia. Kami 4 bersaudara, anak pertama kakak pertama Saya bernama Teguh Prasetio, kakak kedua Saya bernama Aprilia Sri Nastiti, dan Adik Saya bernama Putri Retnaning tyas. Mestinya ada satu lagi yaitu yang mestinya jadi anak pertama atau anak kedua Saya lupa tapi dulu Ibu Saya mengalami keguguran katanya.

Kakak pertama Saya sudah menikah tahun 2016 kemarin tanggal 16 Januari. Entah kenapa Saya masih ingat tanggal pernikahannya. Kakak kedua Saya memiliki satu orang anak bernama Tenten. Adik Saya masih kuliah di sekolah Stikes Boromeus jurusan Rekam Medis. Saya sendiri masih kuliah di salah satu kampus di Bandung. Aneh kan? Umur Saya sudah 26 tahun tapi Saya masih kuliah dan belum lulus juga. Saya sering berpikiran jelek, apakah Saya bisa menyelesaikannya? Saya merasa otak Saya goblok, semakin Saya berusaha ingin menjadi orang yang pintar malah semakin Saya terjerembab pada kebodohan Saya sendiri.

E

Sedikit cerita tadi mengenai keluarga Saya. Sebenarnya Saya paling malas jika harus menceritakan kehidupan keluarga Saya. Saya lebih senang menulis tentang kehidupan pribadi Saya saja di sini. Dari semua tulisan Saya, hanya beberapa saja yang menjelaskan keluarga Saya itupun cuma secara umum saja tidak mendetail.

Kalau Saya bisa simpulkan, semua tulisan tadi adalah beberapa faktor yang membebani pikiran Saya. Kadang orang tidak tahu yang ada dipikiran Saya ini seperti apa. Padahal Saya benar-benar tertekan memikirkan nasib Saya ke depan, nasib keluarga Saya ke depan. Karena biar bagaimanapun juga kakak pertama Saya sudah punya keluarganya sendiri, begitupun juga kakak kedua Saya yang sudah berkeluarga terakhir adik Saya yang mestinya sekarang sudah Saya bisa biaya sekolahnya dan mulai menjadi tulang punggung keluarga. Namun cerita dan kisah berkata lain, Saya cuma bisa merenungi nasib Saya. Nasib seorang pecundang.

Mestinya Saya tidak memikirkan hal-hal jelek seperti itu. Saya harus banyak bertobat untuk semua pikiran jelek yang sering muncul di kepala Saya. Saya tidak mungkin seperti ini terus. 2 kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Kalau tidak jadi orang sukses yang berarti menjadi orang yang gagal. Semoga saja Saya menjadi yang sukses dalam hal apapun.

Hal apa di dunia ini yang lebih baik daripada berbaik sangka pada Allah?

Saya tidak tahu apakah ada yang membaca tulisan Saya. Tapi setidaknya Saya lebih nyaman bercerita semuanya di sini dibanding bercerita pada keluarga ataupun teman Saya. Sulit memahamkan keadaan Saya pada mereka(teman) bahkan keluarga Saya. Saya jarang bicara pada keluarga Saya. Saya bicara jika sedang dibutuhkan saja. Paling sering Saya mau bicara pada Ibu saya karena Saya paling dekat dengan Ibu Saya. Walaupun Saya sering merasa kasihan dengan usia yang sudah tidak muda harus dibebani dengan masalah-masalah Saya, belum lagi masalah lainnya.

Saya tidak tahu apa yang tertulis di atas langit sana. Cerita apa saja dan lakon apa saja yang mesti Saya jalani. Seringkali Saya juga bingung, kok bisa sampai seperti ini. Saya bahkan sering teringat masa kecil Saya. Saya tidak tahu permasalahan manusia bisa sampai serumit ini. Dulu Saya tidak kepikiran sampai bisa seperti ini. Saya dulu hanya berpikiran bahwa nanti jika Saya sudah dewasa Saya sudah harus bisa mengurusi diri sendiri dan juga mengurusi keluarga Saya.

Banyak yang mestinya masih bisa Saya tuliskan apa saja yang ada dipikiran Saya. Saya orangnya punya banyak sekelumit pikiran yang ada di kepala Saya tapi Saya tidak diberi kemampuan banyak untuk bisa menuliskannya dalam kata-kata dan kalimat. Mungkin suatu saat Saya akan menceritakan kisah bahagia Saya di sini, tidak melulu kisah pilu saja. Sebenarnya banyak juga kebahagiaan di hidup Saya, Saya harus tahu diri bersyukur dan tidak menjadi manusia kufur nikmat.

Namun Saya lebih bisa bercerita hal menyedihkan ke dalam sebuah text ataupun paragraf di banding tulisan-tulisan kebahagiaan. Saya kira jika kisah bahagia sudah dapat diceritakan hanya dalam sebuah foto dibanding sebuah tulisan. Hanya dengan sebuah foto Saya rasa sudah dapat menggambarkan betapa bahagianya kehidupan seseorang, tapi tidak dengan kesedihan. Satu foto saja tidak akan cukup untuk menceritakan sebuah kisah pilu. :s

Saya harap, Saya bisa menjadi seperti orang lain yang bisa membahagiakan orang-orang terdekatnya. Saya juga berharap Kamu yang membaca ini mulai mengerti apa saja yang terjadi di kehidupan Saya. Dan Saya harap Saya tidak menjadi orang yang suka menghakimi orang tanpa mengetahui terlebih dahulu keadaan sebenarnya.

Bandung, 28 Desember 2017.

1 Komentar

  1. Taufik Nurrohman

    Dulu Saya juga sampai nganggur 5 tahunan. Yang penting kalau sudah nemu waktunya jangan sia-siakan. Harus ada progress. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.