Gumunan dan Kaguman

“Saya mempunyai teman yang gumunan. Gumunan itu artinya mudah kaguman, seorang yang mudah kaguman disebut gumunan dalam bahasa Jawa. Gumunan dapat dilihat dari seseorang ketika orang tersebut melihat sesuatu yang cukup menakjubkan lalu bereaksi berlebihan, seakan-akan hal yang dilihatnya itu adalah hal yang sangat aneh. Padahal sudah jelas Tuhan itu Maha Besar. Kita cukup kagum dengan kebesaran Tuhan. Kalau ada hal yang menakjubkan cukup ingat, bahwa Tuhan itu Maha Besar. Jadi dalam hal ini tak perlu rasanya menampakkan reaksi yang berlebihan bahkan lebay.”

k

Gumunan juga dapat berarti mudah iri terhadap sesuatu. Mudah terpancing jika melihat orang lain mendapat sesuatu yang enak-enak dan aneh-aneh, orang gumunan langsung ingin merasakannya juga. Padahal belum tentu juga yang enak-enak dan aneh-aneh itu cocok dengan kehidupannya. Bukannya tidak boleh kagum dengan kebesaranNya. Hanya saja jika menyikapi suatu yang sangat menakjubkan atau bahkan hanya sedikit menakjubkan sudah memperlihatkan reaksi yang berlebihan, maka dampaknya akan tidak menjadi kurang baik.

Mengapa…?

Saya ambil contoh. Misal dalam hal masalah agama. Seseorang yang mudah kaguman sering kali melihat hal yang menakjubkan lalu menampakan reaksi yang berlebihan. Yang akhirnya bukan mengingat kebesaranNya malah menjadi melebih-lebihkan sesuatu yang semestinya dapat disikapi dengan bijak. Seorang yang gumunan jika melihat orang lain melakukan ibadah sedikit berbeda dengan tata cara ibadah yang mereka(gumunan) biasa lakukan, maka orang gumunan akan mudah menuduh orang lain sesat, kafir, munafik dsb. Padahal belum tentu juga orang lain yang tidak sependapat dengannya(orang gumunan) berbuat salah.

Saya mempunyai teman yang gumunan dan kaguman. Lihat orang lain punya anu punya itu langsung kebelet pengen. Jika reaksi yang ditampakkan biasa saja sih tidak menjadi persoalan. Tapi jika reaksi yang diperlihatkan sudah melewati batas, inilah yang terkadang membuat saya jengkel. Maka saya berusaha menyikapi orang jenis seperti itu dengan sedikit kalem. Dengan sedikit menahan pembicaraan.

Akhir-akhir ini saya sering melihat di sana sini cukup banyak pemuda yang baru belajar agama, mudah memvonis seseorang sesat dan manusia jahat. Padahal yang mereka tuduh sesat itu merupakan tokoh dan ulama yang tidak main-main. Saya cukup sering melihat di sosial media pemuda yang baru belajar ngaji sudah berani-beraninya menyebut dan mengatakan para kiai di Jawa itu melakukan kesesatan, karena sering ziarah kubur. Mereka berdalih bahwa para kiai meminta berkah dari kubur. Padahal tidak seperti itu. Mereka hanya bisa menuduh, mengutuk seenak jidat mereka. Padahal ilmu itu luas terlebih ilmu agama.

Jujur, saya orang yang kurang dalam pemahaman agama, tapi saya tidak pernah berani menyebut orang lain sesat dan laknat tanpa melihat keadaan sebenarnya seperti apa. Itulah kenapa orang gumunan itu mudah menilai segala sesuatu tanpa pertimbangan yang matang terlebih dahulu.

Seperti itulah jika sifat gumunan itu ada pada orang-orang sekarang ini. Pada akhirnya gumunan itu sifat yang kurang baik menurut saya. Dan saya pun mencoba menghindari dari sifat tersebut dan orang gumunan seperti itu.

Jika kamu melihat tulisan ini kamu gumun dan kagum, maka kamu termasuk orang gumunan dan kaguman.

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.