Janji

Kemarin-kemarin Aku beberapa kali bertemu dengan temanku yang bernama Arif. Sudah cukup lama kami tidak bertemu. Dalam beberapa kali pertemuan kami cerita-cerita berbagai hal mulai masalah kehidupan sampai dengan masalah perempuan. Akhir-akhir ini dia sedang menunggu panggilan kerja yang tak kunjung datang. Di saat ini belum bekerja dan masih membantu bantu Ayahnya di rumah membuat alat-alat peraga fisika. Suatu saat dia bertanya,

"Jika suatu saat nanti Aku hidup bahagia, apakah Aku akan membantu dia dalam hal apapun termasuk hal ekonomi?"

Dia bertanya seperti itu. Lalu Aku menjawab,

"Aku tidak akan melupakan seorang teman, tetapi Aku tidak bisa dengan mudah membuat suatu janji seperti itu, karena membuat suatu janji itu bukan perkara mudah bagiku. Janji itu adalah hutang yang mau tidak mau entah sekarang atau nanti di mana pun Aku berada harus dibayar."

Dia lalu terdiam.

Semestinya Aku tidak berkata seperti itu, karena setidaknya sebagai seorang teman atau mungkin sudah bisa dibilang sahabat karena Aku kenal dia dari mulai SMP sampai dengan sekarang. Tapi sekali lagi Aku ingin menekankan bahwa Aku bukan orang yang mudah begitu saja membuat suatu perjanjian. Ini juga demi menjaga hubungan antar teman agar nantinya Aku tidak ingkar terhadap suatu janji ataupu menelan ludah sendiri.

Diposting oleh Bayu Handono pada
Label:

1 Komentar

  1. Taufik Nurrohman

    Saya biasa menggunakan kata-kata “Saya usahakan” atau “Saya usahakan semaksimal mungkin” untuk menghindari mengucapkan janji. Saya biasa mengucapkan itu kepada siapa saja.