Kaya Tanpa Kebendaan

Ketika Saya sudah putus asa dengan segala keadaan sekarang ini. Saya sempat mendapatkan kutipan kalimat dari Raden Said alias Sunan Kalijaga yang sedikit membuat bahwa Saya merasa sedikit beruntung dibanding dengan orang-orang yang tidak bisa makan makanan yang Saya makan dan apa-apa saja yang sudah Saya dapatkan selama ini sampai sekarang khususnya rejeki. Tiap kali Saya berbuka puasa pada bulan ini di tahun(1438 H), sebelum Saya meminum satu gelas teh manis hangat pada saat setelah berbuka, Saya selalu terpikirkan oleh orang-orang yang tidak bisa makan dan menikmati rejeki seperti Saya saat ini. Kalimat itu adalah:

“Ngluruk tanpo bolo.
Menang tanpo ngasorake.
Sekti tanpo aji-aji.
Sugih tanpo bondho.”

Yang kalau diartikan kurang lebih seperti ini:

“Berjuang tanpa perlu membawa massa.
Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan.
Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan.
Kaya tanpa didasari kebendaan. ”

Yang membuat Saya sedikit enak membaca dari beberapa kalimat tersebut adalah pada kalimat terakhir, “Sugih tanpo bondho”.

Artinya “Kaya tanpa didasari harta/kebendaan”.

Kaya memang selalu disangkut-pautkan dengan harta. Memang faktanya seperti itu juga. Tapi menurut Saya, kaya itu adalah ketika kita bisa bahagia dan hidup tenang walau tanpa harta yang banyak. Walau pada kenyataanya tak seindah kalimat tersebut. Mungkin Saya dapat mengibaratkannya, jika ada seseorang yang memiliki banyak harta melimpah tapi seumur hidupnya diberi suatu penyakit yang tak kunjung sembuh, maka apakah orang itu akan bahagia dan hidup tenang?

Kalau pada kenyataanya harta dan benda sangatlah penting, tapi kita akan merasa bahwa semua itu tidaklah penting jika nikmat yang diberi sudah dicabut seperti saat sakit. Sakit memang dapat diobati ke dokter dan itu jelas memerlukan biaya alias harta. Tapi dengan harta apakah lantas penyakit tersebut langsung dapat sembuh? belum tentu. Semua atas kehendak Tuhan, bukan semata karena harta atau dokter yang hebat.

Kita bisa hidup walau hanya dengan harta yang sedikit, tapi sayangnya kita tidak bisa hidup dengan gaya yang banyak. Iya, manusia memang membutuhkan sebuah gaya hidup untuk menjalani hidupnya dan itu yang sebenarnya membuat suatu rejeki yang didapat sebenarnya banyak tetapi menjadi serasa sangat sedikit dikarenakan gaya hidup yang ingin dijalani.

Saya pun merasa begitu.

Kesimpulan

Harta yang banyak tidak akan pernah bisa cukup untuk memenuhi sebuah gaya hidup, tapi harta yang sedikit akan mampu membiayai kehidupan yang tidak banyak gaya.

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.