Membantu, Pembantu, dan Pengorbanan

Sering kesal dengan orang yang meminta bantuan, tetapi ketika dibantu malah kesenengan. Kalau istilah populernya itu sering dibilang, “Dikasih hati malah minta jantung”. Iya, suka muak dengan orang seperti itu. Sudah jelas kalau kita yang membutuhkan bantuan maka kitalah yang seharusnya yang mendatangi orang yang ingin kita minta bantuan bukan malah kita yang menyuruh orang yang ingin membantu kita untuk mendatangi kita. Begitu seharusnya, kan? Tapi Saya sering sekali mengalami, orang yang meminta bantuan malah seperti raja saja. Mereka yang meminta bantuan malah mereka yang minta Saya untuk datang ke rumahnya. Kalau sekali dua kali tidak masalah buat Saya. Tapi ketika itu sudah menjadi kebiasaan orang tersebut, lama kelamaan Saya muak juga. Terlebih yang kelakuannya seperti itu adalah teman Saya sendiri.

Saya bersedia membantu orang yang sedang membutuhkan bantuan semampu apa yang bisa Saya lakukan. Tapi Saya benci jika Saya harus dijadikan pembantu oleh mereka. Sebenarnya Saya ini teman Kamu atau pembantu Kamu? Yang namanya membantu itu bukan keseluruhan tapi sebagian atau beberapa persen saja. Jika Saya memiliki barang yang harus Saya bawa di suatu waktu maka Saya mengusahakan barang yang Saya bawa itu Saya bawa sendiri. Jika sudah tidak mampu membawa dengan tangan dan kaki Saya sendiri!! Maka barulah meminta bantuan pada teman Saya. Itu yang namanya minta bantuan.

Itu yang namanya memperlakukan seorang teman yang sedang dimintai bantuan bukan menjadikan teman seperti pembantumu!! Jika dalam semua hal Kamu meminta bantuan pada temanmu, lalu apa yang sudah Kamu lakukan untuk dirimu sendiri? Setidaknya ada kontribusi untuk masalahmu sendiri bukan dilimpahkan pada temanmu. Kasihan temanmu dijadikan babu olehmu.

Pengorbanan?

Bukan, menurut Saya itu bukan sebuah pengorbanan. Karena pengorbanan itu butuh keikhlasan. Kalau tidak ikhlas berarti itu namanya bukan pengorbanan tapi itu namanya romusha. Tidak sepantasnya Kamu memperlakukan yang Kamu bilang bahwa itu adalah temanmu atau bahkan sahabatmu seperti itu. Seperti romusha seperti budak ataupun hamba sahaya. Seorang hamba sahaya pun masih perlu dihormati dimanusiakan.

Dari beberapa teman yang Saya punya, hanya satu atau dua orang saja yang bisa memperlakukan orang sebagai teman yang layak. Kebanyakan teman Saya memperlakukan teman mereka sendiri seperti pesuruh mereka saja. Itu saja tidak lebih. Rasanya percuma juga jika Saya mesti menganggap mereka sebagai sahabat. Saya orang yang berpikiran bahwa sahabat itu tidak ada yang ada hanya teman mau itu teman dekat ataupun teman jauh Saya hanya menganggap teman dekat Saya sebagai teman saja bukan sahabat. Karena kata sahabat juga berasal dari bahasa arab yaitu sahaba yang berarti sahabat, teman dan sejenisnya. Sama saja kan?

“Sebuah pengorbanan dapat dianggap sebagai pengorbanan ketika pengorbanan yang dilakukan tidak lagi diungkit-ungkit dan dibahas lagi.”

Karena pengorbanan itu mesti dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih. Ketika Kamu mentraktir teman Kamu dan Kamu menganggap hal itu sebagai pengorbanan kepada temanmu, maka itu sama sekali bukan pengorbanan. Karena pengorbanan itu “tidak dikatakan”. Pengorbanan ya pengorbanan, tidak harus diingat-ingat lagi, tidak harus dikata-katakan lagi, tidak berharap dapat balasan dari siapapun. Walaupun sebagai manusia itu sulit dilakukan karena sudah menjadi fitrah manusia jika sudah melakukan sebuah usaha maka harus mendapatkan apa yang sudah diusahakan.

Bukan sok tahu, tapi berdasarkan semua yang telah Saya alami sampai dengan saat ini. Ketika semua pengorbanan yang telah Saya lakukan dan kerjakan, Saya harus mengikhlaskan begitu saja tanpa harus mengungkit lagi masa lalu dan tanpa membandingkan kehidupan yang Saya rasakan dengan kehidupan orang lain khususnya teman-teman Saya yang sudah berhasil. Dari sanalah Saya berpikir bahwa yang namanya pengorbanan yang kita lakukan itu tidak harus diarsipkan lalu dikalkulasi dengan keterbatasan kemampuan berpikir otak manusia.

Menggerutu

Sebenarnya tulisan-tulisan Saya ini sekilas seperti sedang menggerutu, mengomel, mengungkapkan kebencian terhadap oran lain. Tapi bukan seperti itu. Saya menulis tulisan seperti ini hanya sebatas sebagai ekspresi kemarahan, kekesalan yang Saya tahan. Daripada Saya memberikan kekesalan dan kemarahan pada orang lain, akan lebih baik jika Saya dapat mengemas sisi emosional Saya yang terpendam pada tulisan-tulisan Saya di sini.

Orang-orang terdekat Saya pun mungkin tidak ada yang tahu Saya punya blog seperti ini. Jadi Saya masih tetap bisa menulis apa yang ingin Saya tulis. Mungkin ada beberapa orang yang sudah tahu dan Saya pun tahu bahwa mereka yang sudah tahu secara diam-diam membaca tulisan-tulisan Saya ini tapi Saya pura-pura tidak tahu bahwa mereka sudah mengetahui Saya punya jurnal ini.

Saya rasa lebih baik seperti itu. Jadi Saya tahu siapa-siapa saja yang kepo pada kehidupan dan pemikiran-pemikiran Saya. Terkecuali teman-teman Saya di dunia maya, karena kebanyakan mereka yang tahu Saya punya hal semacam ini sudah tahu dari zaman dulu kala. Jadi sudah tidak aneh bagi mereka(teman di dunia yang tidak nyata) terlebih lagi dari grup Kopizine di Facebook walaupun cuma beberapa orang saja yang tahu.

Saya dapat tutup dengan mengambil sebuah kalimat dari seorang seniman, dalang, “guru besar”, pemusik, sastrawan, budayawan dan banyak lagi gelarnya yaitu Sujiwo Tejo. Beliau pernah berkata dalam kalimat-kalimat indahnya yang berbunyi, “Cinta itu tak kenal pengorbanan. Ketika Kau merasa berkorban, maka seketika itu cintamu mulai pudar”. Saya dapat artikan bahwa jika berkorban itu dianggap sebagai pengorbanan maka itu namanya bukan pengorbanan tapi itu itung-itungan.

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.