Menjadi Baik

“Menjadi orang baik itu mudah. Dengan diam saja kamu sudah menjadi baik. Yang sulit itu menjadi bermanfaat.”

Jujur saja sudah kurang lebih 1 tahun saya menganggur, tidak punya kerjaan. Kerjaan saya cuman tidur, makan, nonton tv, internetan, paling bagus beres-beres rumah itu pun hanya sekedar mencuci piring, masak nasi , dan memasak air untuk minum. Sejak 6 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2010 saya lulus sekolah dan masuk kuliah di suatu universitas di Bandung. Sampai saat ini saya belum lulus juga, padahal tinggal 1 mata kuliah lagi yaitu tugas akhir(skripsi). Sebenarnya saya sempat mengambil mata kuliah tersebut dan menjalaninya beberapa kali namun saya berhenti di tengah jalan, karena materi yang saya ambil terlalu sulit. Sejak setelah itu saya mulai kehilangan semangat untuk melanjutkan, karena memang birokrasi di kampus saya sangat super ribet. Saya sempat diberi saran oleh dosen wali saya untuk mengganti judul saja, namun saya inginnya pindah kampus saja.

Saya bisa saja melanjutkan dan mengganti judul dengan judul baru. Namun saya yang merasakan, saya yang mengalami keadaan sebenarnya, saya sudah malas untuk melanjutkan. Niat ingin pindah kampus pun ditolak mentah-mentah, jadi keadaan saya sekarang sedang terjebak di satu sisi saya tidak ingin melanjutkan di kampus yang sekarang di sisi lain saya tidak dapat pindah ke kampus lain. Ingin mencari pekerjaan pun, dengan ijazah SMA rasanya tidak mungkin saya mendapatkan pekerjaan. Kalaupun dapat paling tidak jauh dari cleaning service ataupun office boy.

Sebenarnya saya tidak mempermasalahkan hal tersebut hanya saja keluarga dan orang-orang terdekat saya yang sudah pasti mempermasalahkan hal tersebut. Kalian mungkin punya beberapa sodara yang comelnya minta ampun, melebihi comelnya burung beo. Ya begitulah. Selain itu jika saya sedang bertemu teman saya, tepatnya sedang berkunjung ke ruman salah seorang teman maka sudah pasti yang saya dapat adalah caci maki, penghakiman dan semacamnya. Akhir-akhir ini pun saya sudah malas bertemu teman saya. Bukan memutus silaturrahim, tapi apakah kamu ingin jika bertemu yang mereka katakan hanya caci maki yang terlontar dari mulut mereka. Memang saya pantas, sangat pantas di caci maki dikarenakan kebodohan dan nasib saya ini. Tapi saya sangat terima sebuah penghakiman oleh manusia.

Umur saya sudah menginjak 25 lebih. Mestinya saya sudah harus mempunyai pekerjaan. Bekerja untuk keluarga saya, setidaknya untuk membantu ekonomi keluarga. Tapi nasib berkata lain. Saya jadi sering teringat dengan kalimat “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika bukan kaum tersebut yang mengubahnya”. Jika saya teringat kalimat itu saya seringkali merasa menjadi manusia terkutuk, durhaka pada orang tua, tak bermanfaat. Terkadang seringkali terpikir lebih baik saya mati saja daripada menjadi manusia tak bermanfaat. “Menjadi orang baik itu mudah, menjadi bermanfaat itulah yang sulit”. Kalimat itu terucap dari seorang ulama namun saya lupa nama ulama tersebut siapa.

M

Caci maki pun terlontar dari sahabat saya. Secara tidak langsung sahabat saya tidak mengucapkannya secara langsung tapi dari gerak tubuh saya bisa menebak sahabat saya pun ingin berkomentar atas apa yang saya perbuat atas nasib saya, atas apa dosa yang saya lakukan. Memangnya siapa sih yang mau mengalami keadaan di posisi saya? Pasti tidak ada yang mau. Namun rasanya tidak mungkin saya terus beralasan dan berkata seperti ini pada orang-orang, “Hanya karena kamu benar bukan berarti aku salah. Kamu hanya belum pernah hidup di posisiku”. Seseorang sakit tidak akan pernah bisa merasakan sakit sebelum mereka mengalaminya sendiri.

Saya sudah putus asa dengan di situasi seperti ini. Tidak akan ada yang mau peduli. Bahkan saya sendiri sudah tidak lagi peduli dengan nasib saya bagaimana. Rasanya ingin mati saja. Apalagi kalau sudah terpikir dengan orang tua. Ibu saya sudah sakit-sakitan, kelakuan saya sudah seperti ini, tidak ada bagus-bagusnya, tidak bermanfaat.

Pernahkah kalian dahulu saat masih kecil membayangkan suatu saat punya rumah sendiri, punya mobil sendiri, punya istri, punyak anak, punyak banyak uang? Mungkin sekarang saya sudah harus berhenti memikirkan hal-hal semacam itu. Rasanya sudah tidak mungkin untuk hidup seperti itu. Rasanya semangat saya sudah lenyap, jiwa saya sudah mati. Sempat terpikir untuk pergi saja dari rumah entah ke mana, entah bagaimana, entah jadi apa. Saya sudah tidak kuat menanggung semua ini.

Saya laki-laki lemah, bahkan saya tidak pantas disebut laki-laki. Bahkan sebutan manusia pun tidak pantas sama sekali. Dengan tulisan-tulisan semacam ini, maka terungkaplah dosa-dosa saya, kebodohan saya, ketidakmampuan saya untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain maupun untuk diri sendiri. Sebenarnya sih kalau bisa, saya inginnya kerja di pabrik, pabrik apa saja yang penting kerja.

Saya sadar dengan keadaan saya yang seperti ini sudah untung kalau masih bisa mendapatkan pekerjaan. Ditambah lagi saya belum memiliki pengalaman kerja yang menjadi pertimbangan juga saat melamar pekerjaan. Jika saja saya sudah memiliki pengalaman kerja mungkin saya bisa melamar pekerjaan. Saya sangat tertekan dengan keadaan yang seperti ini. Mungkin tulisan ini hanya alasan saya saja untuk mengeluh, untuk membenarkan sebuah kemalasan, untuk membenarkan sebuah kebodohan saya. Apapun penilaian kamu yang sedang membaca tulisan ini saya terima. Karena begitulah manusia terkadang senang mengambil jatah sang pengHakim. Walau manusia hanya diberi jatah untuk menasihati bukan menghakimi.

Terkadang saya sering berpikir, untuk apa sebenarnya saya ada. Saya rasa saya sekali tidak bermanfaat. Saya masih sanggup untuk menjadi orang baik. Dengan diam saja kamu sudah menjadi baik. Saya takut. Saya takut masuk neraka dikarenakan kedurhakaan saya, kesalahan-kesalahan saya, ketidak bermanfaatan saya sebagai makhluk. Saya takut atas dosa yang saya perbuat sendiri. Jika dipikir lucu juga. Nasib dan kehidupan seseorang hanya ditentukan oleh selembar kertas(ijazah).

Jika dibandingkan dengan si Ah*k. Kira-kira dosa saya banyakan mana sama si dia. Saya bukan dan tidak mau menjadi penista agama. Tapi apakah dosa saya juga sebanyak dosa penista agama? Entahlah saya merasa seperti itu. Rasanya semua yang telah saya lakukan sia-sia. Tidak ada manfaatnya. Saat ini saya ingin sendiri saja. Menyepi. Mati. Sendiri.

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.