Modal Gacor

Begini, ngomong-ngomong soal posting yang satu ini Aku memberi judul Modal Gacor. Mungkin sebagian orang tidak mengetahui apa itu istilah Gacor. Gacor adalah istilah di tanah sunda untuk menganalogikan suara burung kicauan yang suaru kicauannya panjang dan bagus. Kenapa Aku memilih istilah ini dalam penggunaan judul posting kali ini karena jika burung yang sudah gacor maka burung tersebut dapat dijual dengan mahal.
H

Begitu pun juga Aku sengaja menggunakan istilah ini dalam mengibaratkan seorang manusia yang pekerjaanya menjadi pembicara di depan umum atau khususnya di sini Aku ingin sedikit membahas seorang yang berprofesi sebagai motivator.

Akhir-akhir ini Aku berfikiran dan sering membayangkan, bagaimana jika suatu saat nanti Aku yang orangnya seperti ini menjadi seorang motivator haha. Mungkin sedikt menggelikan karena Aku sendiri di dunia nyata jarang sekali berbicara pada orang jika tidak diajak berbicara duluan, karena Aku hanya mampu mengoceh di dunia maya yang fana ini. Bukannya Aku tidak berani berbicara di depan teman ataupun orang lain hanya saja Aku lebih nyaman berbicara dan berceloteh di blog ini sebagai ungkapan jiwa muda ku ini.

Jangankan memulai pembicaraan dengan orang yang pertama kali Aku kenal, berbicara dengan orang yang seumur-umur sudah mengenalku lama saja Aku jarang kecuali di situasi tertentu saat Aku sedang enak melakukan pembicaraan bahkan candaan. Aku ini orangnya moody gampang berubah sikap dengan cepat, tapi bukan labil atau plin-plan yah.

Dalam kondisi tertentu Aku bisa tertawa sendiri hanya karena ada hal yang sedikit lucu walaupun menurut orang lain itu lucu, di lain hal Aku sering sekali mengalami kesulitan memberikan senyuman ataupun tawaan dalam hal ini tawaan palsu dalam memberikan apresiasi terhadap candaan orang lain, jika Aku tidak ingin tertawa ya Aku diam, mungkin orang lain bisa bersandiwara memberikan tawa palsu untuk memberikan tawa pada orang lain yang melakukan lelucon namun Aku sedikit sulit melakukan hal itu.

Kembali lagi ke bahasan yaitu menjadi motivator. Mengapa Aku sampai berfikiran mungkin enak jika menjadi seorang motivator karena akhir-akhir ini Aku mulai merasa kesulitan dalam menjalani kegiatan sehari-hariku ini, karena mungkin di kegiatan akademik ku tidak lepas dan tidak bisa lepas dari hal-hal yang berbau teknologi khususnya teknologi yang berhubungan dengan komputer. Mungkun kalian bertanya-tanya kenapa Aku mulai jenuh dengan kehidupan yang Aku jalani saat ini, ya jawabanku satu-satunya yaitu jika suatu saat Aku sudah bekerja Aku ingin sekali terhindar dari pekerjaan-pekerjaan yang mengandalkan teknologi komputer, entah kenapa mungkin Aku selalu mendapatkan kesulitan dalam mengerjakan hal-hal yang harus bersinggungan dengan bidang ini.

Kemudian melanjutkan tentang menjadi motivator, sesungguhnya Aku kurang menyukai jika di tv-tv yang ada acara motivator-motivatornya entah kenapa mungkin Aku bisa simpulkan Aku memang tidak cocok mendengarkan acara-acara atau kegiatan seperti itu. Namun kebanyakan yang sudah menjalani profesi motivator itu penghasilannya terjamin dibandingkan harus menjadi seorang programmer yang pekerjaanya curhat dengan koding atau berpacaran dengan error.

Aku pun mempunyai sedikit cerita mengenai kegiatanku yaitu di tempat menimba ilmuku. Suatu waktu Aku sedang mengikuti pelajaran yang di dalam pelajarannya harus menggunakan logika yaitu pelajaran pemrograman. Aku pun lantas mencoba mengerjakan apa yang diperintahkan oleh sang pahlawan tanda jasa yaitu mengerjakan suatu latihan.

Waktu itu tepatnya kurang lebih pukul 15.30 an pada hari Jum’at. Akupun mulai mengetik latihan yang diberikan oleh sang pahlawan tanda jasa tersebut. Dan Aku mulai merasa kesulitan dalam mengerjakannya, Aku kira Aku saja yang kesulitan dalam mengerjakan latihan tersebut, ehh ternyata temanku yang duduk di sampingku dengan leluasanya berucap:

“Ahh lieur ngoding mah, mending jadi penyanyi wehlah aing mah.” Itu bahasa Sunda, jika diterjemahkan artinya, “Ahh pusing ngoding, mending jadi penyanyi sajalah.”

Itulah yang terucap dari seorang teman yang duduk tepat di sebalah kananku itu, Akupun langsung cengengesan mendengar celetukan tersebut.

Dari hal tersebut Aku berfikiran mungkin Aku memang tidak cocok di bidang ini, tapi mau bagaimana lagi toh ini semua sudah terlanjur mau tidak mau Aku harus menjalaninya sampai selesai. Akupun tidak ingin mengecewakan kedua orang tuaku. Toh sebenarnya Aku sudah memasuki tingkat akhir namun apalah daya kemampuan otakku yang memang hanya segini menjadi penghambat dalam menempuh kegiatan yang Aku lakukan saat ini. Aku membayangkan bagaimana jika saja Aku pandai berbicara di depan umum dan mudah dalam melakukan diskusi, Aku ingin sekali menjadi motivator.

“Karena menjadi motivator itu Modal Gacor. Mending jadi motivator modal Gacor dapet duit.”

Walaupun begitu sekali lagi Aku tekankan, Aku ini kurang menyukai hal-hal yang berbau motivator apalagi seperti-seperti di acara-acara di tv seperti saat sekarang ini. :D

2 Komentar

  1. Taufik Nurrohman

    Ada dua tipe motivator. Yang satu motivator yang bekerja khusus untuk mengatasi masalah depresi atau perasaan putus asa pada seseorang, misalnya pak Mario Teguh. yang satu lagi adalah motivator untuk urusan kekayaan atau kesuksesan, misalnya seperti pak Bong Chandra.

    Saya tidak suka sama motivator tipe ke dua. Karena kebanyakan kalau ditanya itu dia malah njawabnya pakai ndongeng dulu, entah itu ndongeng soal kura-kura atau soal benda mati yang bisa ngomong. Tidak to the point, bertele-tele. Dan kadang pada akhirnya pertanyaan yang diajukan sama si penanya malah tidak dijawab sama sekali. Memang sih, si penanya pada akhirnya jadi agak senyum, tapi itu senyum bukan karena dia dapat jawaban. Dia senyum karena habis dikasih dongeng yang lucu.

  2. Bayu Handono

    @Taufik Nurrohman Aku tak suka yang tipe kedua, tapi Aku juga ga terlalu suka sama tipe yang pertama :D