Salahkan Saja Takdir

Salahkan saja takdir.
Semua salah takdir.
Semua sudah tertulis di atas.
Lalu Saya mesti bagaimana?
Menyalahkan takdir?

Kapan salahmu?
Seakan semua salah takdir.
Takdir tak salah, Kamu yang salah.
Kamu yang berbuat Kamu yang menanggung.

Sampai kapan terus menghindar?
Sampai mati?
Sampai orang lain yang mau menanggung kesalahanmu?
Atau sampai Tuhan mengubah takdirmu?

Tak ada jalan.
Hanya tembok yang menghalang.
Tembok besi karatan.
Tembok yang terbina oleh tanganmu sendiri.
Tangan kotormu.

Tak usah bingung.
Ini bukan puisi.
Hanya curahan hati yang tak berisi.

10 Desember 2017

0 Komentar

  1. Belum ada komentar.