Stress

“Saya terima takdir dan nasib Bayu Handono dengan mas kawin seperangkat kesedihan dibayar tunai.”
Setelah dipikir-pikir, Saya baru akan bisa mengambil skripsi pada tahun 2018 nanti. Mau tidak mau Saya harus memikirkan itu, karena semakin mencoba tidak dipikirkan malah semakin parah kepikiran. Untuk pertama kalinya Saya akan ceritakan bagaimana realita hidup Saya di sini.

Masih Nganggur

Kamu yang sedang membaca tulisan ini tidak akan percaya bahwa diusia Saya yang sudah menginjak 26 pada tahun 2017 ini ternyata masih manusia pengangguran. Ya, Saya masih menganggur, Saya masih fakir mungkin juga “miskin”.

Saya masih belum bekerja. Fakta yang menjijikan bukan?

Seharusnya jika Saya ini manusia(laki-laki) normal yang umum, maka sudah seharusnya Saya sudah mempunyai pekerjaan. Apa saja yang penting bekerja, tidak minta terus pada orang tua.

Mungkin belum rejekinya?

Saya tidak mau membicarakan soal keberuntungan dan rejeki. Karena itu bisa menjadi salah satu alasan Saya pada orang-orang jika ditanya orang-orang, maka Saya bisa mengelak dengan bilang “belum rejekinya”.

Kalimat paling gampang diucapkan untuk sebuah alasan ngeles dari fakta bahwa Saya manusia gagal.

Kuliah

Saya lulus SMA tahun 2010. Kemudian masuk ke perguruan tinggi dan awalnya baik-baik saja. Sampai Saya tahu bahwa otak Saya tidak pantas untuk berkuliah.

Saya bodoh!

Tahun demi tahun:

  • Tahun 2013 Saya sudah mulai merasa tidak betah kuliah. Saya sudah ketinggalan cukup banyak pelajaran/mata kuliah.

  • Tahun 2014, teman-teman Saya sudah mulai meninggalkan kampus alias lulus. Mental Saya mulai tidak seoptimis dulu-dulu saat awal perkuliahan.

  • Tahun 2015, sebagian teman Saya yang lain yang belum sempat lulus pada tahun 2014 akhirnya sudah mulai lulus satu persatu dan saat itu Saya sudah merasa hancur lebur.

2015 akhir Saya sudah menyusun skripsi bersama dengan teman-teman tadi tapi Saya gagal di tengah jalan. Saya hancur di bab 3 dan program belum jadi. Ini dampak dari salahnya Saya dalam hal pengambilan judul skripsi. Saya sudah benar-benar hancur pada tahun 2015 itu. Karena banyak dari teman-teman dekat Saya yang lulus pada tahun itu.

Awal tahun 2016 kalau tidak salah sampai akhir tahun 2016, Saya cuti ehh tidak aktif. Cuti dan tidak aktif berbeda. Saya tidak masuk kuliah tanpa alasan selama setahun. Kerja Saya cuma melamun seperti orang stress. Cuman diam saja dan jalan-jalan dan bepergian ke tempat jauh untuk menenangkan diri.

Tidak ada gunanya memang Saya melakukan hal seperti itu, bepergian tidak jelas. Tapi Saya pikir daripada Saya stress dan gila, kan?

Melamar Kerja

Saya baru satu kali mencoba melamar kerja dan tidak diterima. Bukan persoalan berapa kali Saya melamar pekerjaan, tetapi Saya sangat bingung. Apakah Saya harus melamar kerja saja dan sambil berjalan Saya melanjutkan kuliah Saya, atau Saya hanya melanjutkan kuliah Saya yang terbengkalai?

Kurang gila apa coba, Saya berpikir seperti itu selama satu tahun? stress!!

Melanjutkan

Awal tahun sekitar bulan februari 2017 lalu Saya mencoba memperbaiki masa depan Saya. Saya mau masuk kuliah lagi di awal februari. Tapi tidak lagi di kampus yang dulu, tetapi di kampus baru. Oya, kampus lama Saya di UNIKOM dan sekarang Saya pindah kampus ke STMIK Bandung.

Alasan Saya pindah, jujur Saya sudah jenuh di kampus lama. Bukan berarti kampus lama Saya jelek ataupun tidak berkualitas tapi Saya-nya saja yang malas meneruskan di kampus itu. Mungkin kurang cocok. Atau mungkin Saya-nya saja yang manja dan tidak tahu diri!!

Memperbaiki Semuanya

Di kampus yang baru Saya mencoba memperbaiki semuanya. Semua dosa yang telah Saya perbuat terhadap teman Saya, terhadap diri sendiri dan terhadap orang tua Saya yang Saya rasa tidak bisa termaafkan. Saya harus mengambil lagi mata kuliah yang sebelumnya sudah Saya ambil di kampus terdahulu dan juga sebagian mata kuliah yang belum ada di kampus dulu. Jadi banyak lagi yang harus Saya ulang dan perbaiki.

Ya, Sebenarnya Saya sudah mengambil skripsi di kampus yang dulu istilahnya tinggal seiprit lagi. Sebuah keputusan yang sangat bodoh untuk berpindah kampus hanya karena masalah ini.

Sekarang

Saat ini Saya masih menjalani pendidikan dan hanya masuk pada hari Sabtu saja. Aneh ya?

Ya benar, hari Senin sampai Jum'at Saya nganggur. Kerjaan Saya cuman main game, dan bersosial media yang tak ada gunanya. Selalu terpikir untuk melamar kerjaan, jadi Senin sampai Jum'at Saya bekerja dan pada hari Sabtu Saya masuk kuliah. Tapi apa ya kira-kira pekerjaan yang cocok untuk Saya, untuk laki-laki yang sudah berkuliah selama 7 tahun belum lulus-lulus dan belum pernah sekalipun bekerja. Apa ada pekerjaan yang cocok buat orang tak berguna seperti Saya?

Sempat beberapa kali terpikir untuk menjadi tukang ojeg saja. Entah itu ojeg online ataupun ojeg konvensional. Cuman itu yang bisa ada dipikiran Saya. Apapun pekerjaannya Saya cuman ingin bahwa hidup Saya sedikit bermanfaat cukup untuk diri sendiri saja. Sukur-sukur bisa bermanfaat juga untuk orang lain.

Solusi

Saya butuh solusi.

Untuk Kamu, yang membaca tulisan ini. Apakah Kamu teman nyata Saya ataupun teman maya Saya. Saya ikhlas dengan penilaian kalian terhadap diri Saya. Entah itu buruk atau baik. Mungkin Saya rasa tidak ada hal baik di diri Saya.

Saya ikhlas disebut orang bodoh, Saya ikhlas disebut pecundang atau bahkan disebut bajingan sekalipun. Semoga Tuhan mengampuni semua dosa-dosa Saya terhadap kalian, dosa Saya terhadap orang tua Saya dan dosa Saya terhadap seluruh alam.

Aamiin.

1 Komentar

  1. Taufik Nurrohman

    Coba buka usaha sendiri? Meneruskan usaha orangtua?