Terlalu Banyak Asumsi

Saya terjebak di situasi seperti saat ini. Saya sangat tertekan. Saya merasa semua yang telah Saya lakukan dari dulu sampai sekarang menjadi sia-sia. Semua hal yang Saya dapat dan Saya pelajari selama ini Saya rasa tak terpakai. Usia Saya semakin bertambah. Desember tahun 2017 ini, usia Saya sudah genap 26 tahun. Namun Saya belum bisa memberikan apa-apa untuk keluarga Saya, khususnya untuk kedua orang tua Saya. Saya cuma bisa merepotkan mereka. Saya merasa terjebak pada keadaan di mana Saya tidak memiliki jalan keluar.

Kapan Saya bisa hidup mandiri? Sementara Saya tidak memiliki kemampuan apa-apa. Mungkin ini perasaan Saya saja yang suka membanding-bandingkan keadaan yang Saya alami sekarang dengan keadaan orang lain(teman-teman Saya) yang hidupnya susah jauh lebih baik. Namun nyatanya tidak ada yang nasibnya seburuk Saya. Tidak ada yang hidupnya sekonyol Saya.

Bayangkan saja, Saya harus menjalani apa yang tidak semestinya dijalani oleh seorang laki-laki yang sudah berumur 26 tahun. Saya harus memulai segalanya dari awal. Sangat menjengkelkan. Seringkali Saya marah pada Tuhan. Iya, marah sungguhan. Namun marah tersebut Saya selingi dengan beristighfar dan intropeksi diri. Saya sering merenung sendirian, agar Saya tak lagi sering menyalahkan Tuhan atas kekacauan hidup Saya ini, dan juga agar Saya berhenti menyalahkan orang lain yang nasibnya jauh lebih baik daripada nasib Saya sekarang.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ
fa may ya'mal misqoola zarrotin khoiroy yaroh
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7)

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
wa may ya'mal misqoola zarrotin syarroy yaroh
“Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”
(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 8)

Mungkin Saya harus banyak-banyak mengingat 2 ayat di atas, agar Saya berhenti menyalahkan keadaan, menyalahkan Tuhan, dan menyalahkan orang lain atas apa yang Saya alami. Anggap saja dosa Saya yang banyak sekali sedang “dikurangi” sedikit demi sedikit dengan terjadinya tragedi pedih pada hidup Saya ini. Kebaikan sekecil apapun pasti akan dibalas dan keburukan sekecil apapun pasti akan dibalas juga.

Beberapa bulan lalu Saya sempat putus asa. Sangat putus asa. Pada suatu malam, Saya pernah mengambil seutas tali rapia(tali plastik) yang niatnya akan Saya gunakan untuk hal yang paling terkutuk di dunia ini. Saya rasa Saya tidak perlu jelaskan mendetil perbuatan apa yang akan Saya lakukan saat itu. Saya rasa kalian sudah bisa menebak apa yang akan Saya lakukan saat ini. Perbuatan yang sangat tercela dan tidak semestinya Saya ceritakan di sini. Perbuatan yang bisa memasukkan seseorang ke dalam neraka.

Sayangnya, Saya masih beruntung. Saya masih diberikan akal sehat Saya saat itu. Saya mengurungkan niat tercela Saya saat itu. Mungkin Tuhan masih ingin memberikan kesempatan kedua untuk Saya. Kamu mungkin akan sangat kaget mendengar ini, tapi memang itu yang pernah Saya alami beberapa bulan ke belakang. Mungkin Kamu akan menjadi jijik setelah mendengar semua ini. Tidak apa-apa. Bagi Saya, dengan menceritakan beberapa hal yang Saya alami, Saya dapat sedikit lega. Sekalipun itu hal gila dan tercela.

Banyak pertanyaan di pikiran Saya yang sering muncul. Kapan Saya bisa mandiri? Kapan Saya bisa berhenti merepotkan keluarga? Kapan Saya mendapatkan keberuntungan seperti orang-orang yang sudah mendapatkan keberuntungan tersebut? Sampai kapan Saya begini? Adakah jalan keluarnya?

“Biarkan waktu yang menjawab.”

Saya rasa tidak. Salah satu hal lucu yang sering Saya dengar dari orang-orang ketika mereka sedang terjebak pada suatu keadaan di mana mereka tidak dapat berbuat apa-apa mereka berkata,

“Biarkan waktu yang menjawab”.

Menurut Saya itu lucu. Sebuah ungkapan seakan-akan semuanya akan baik-baik saja sampai mereka merasakan seperti apa yang Saya rasakan. Saya rasa kata-kata seperti itu adalah sebuah perkataan lucu. Mungkin ini salah satu kejelekan Saya. Saya kurang percaya pada diri sendiri. Saya kurang bisa berpikir lebih positif terhadap keadaan mendatang. Terlalu banyak asumsi negatif di pikiran Saya. Saya tidak bisa seperti mereka yang selalu berpikiran positif dan optimis pada masa depan. Ini yang Saya selalu coba perbaiki sejak dulu. Mungkin ini lucu, tapi mungkin Saya harus mulai belajar seperti mereka yang berpikiran bahwa, “waktu dapat menjawab semuanya”.

26 September 2017

2 Komentar

  1. Taufik Nurrohman

    Cek jurnal Saya yang judulnya Sore Hari Bersama Tifani, di situ ada pesan dari bu Reni yang pernah Saya catat.

  2. Bayu Handono

    @Taufik Nurrohman Iya sudah nyoba selalu buat berpikiran supaya membiarkan waktu yang menjawab, tapi pada akhirnya kepikiran juga bahwa waktu belum tentu mau menjawab.

    Akhirnya stress lagi …